Habis nonton menit-menit terakhir The Age of Adaline di tv.

Buat yang belum tahu, film itu berkisah tentang seorang perempuan, Adaline, yang karena fenomena alam jadi ga bisa menua. (*hela nafas).

Intinya doi mesti menjadi pelarian sepanjang hidupnya setelah insiden yang membuatnya tak kunjung menua. Berpindah-pindah tempat tinggal dan berganti identitas. Hidupnya tak lagi sama. Sulit baginya menjalin hubungan sosial dengan orang lain, apalagi hubungan spesial.

Sampai pada suatu saat dia bertemu pemuda yang mendekati sempurna. Ia jatuh cinta, dan bersedia mengenal keluarga si pemuda.

Ternyata, ayah pemuda itu adalah mantan kekasihnya puluhan tahun lalu.


Sampai di sini yah ceritanya.

Tujuan nulis postingan ini adalah untuk mengantarkan pertanyaan yang tiba-tiba muncul di saat menonton film itu.

Okelah fisik tidak menua; tetap. Namun bagaimana dengan pikiran si Adaline?

Bagaimanakah dampak usia pada pikiran manusia?

Yang daku ingat, 5-10 tahun lalu keberanian memperjuangkan sesuatu berdasar perasaan jauh lebih mudah dibandingkan sekarang. (*halah)

Waktu jelas mengubah pola pikir dan caraku bersikap. Tentunya daku memilih untuk menjadi seperti itu. Bagaimana dengan orang seperti Adaline?


Barusan browsing dan menemukan kalimat yang bisa diresapi, khususnya mengenai pikiran, jiwa yang merupakan rekan kerja tubuh/raga.

“A Person Becomes Old When His Mind Is More Occupied by Memories Than Aspirations” -Navin Kulkarni

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s